Detail :: Data Jembatan

Jembatan Flyover Janti



Panjang1.250,00 m
Kondisi UmumAktif
Jenis JembatanGelagar
Tanggal Mulai1999
BiayaRp. 23.000.000.000,00
NegaraIndonesia
PulauJawa
PropinsiYogyakarta
Latitude (GPS)-7.7833630000000000
Longitude (GPS)110.4106560000000200

Kondisi Umum

Lokasi kota Yogyakarta sangat strategis sebagai kota wisata, kota perdagangan dan kota pendidikan, memberi dampak terjadinya kepadatan lalu lintas pada ruas-ruas jalan utama di Yogyakarta. Di samping itu variasi jenis model transportasi angkutan darat dalam mendukung pariwisata dan perekonomian masyarakat, terutama angkutan tidak bermesin juga memberi kontribusi terhadap kemacetan selain merupakan nuansa tersendiri pada lalu lintas yang ada.

Adanya kepadatan lalu lintas yang tinggi, sering menimbulkan kemacetan pada junction (pertigaan), pertemuan sebidang antara Ruas Jalan Yogyakarta - Prambangan dengan akhir Ruas Jalan Arteri Selatan, mengingat kedua ruas jalan ini berstatus jalan nasional dan berfungsi sebagai jalan arteri primer ini.

Dengan kondisi tersebut di atas kedua ruas jalan ini merupakan pilihan utama untuk lalu lintas antar kota dan antar propinsi yang akan menuju atau keluar kota Yogyakarta sehingga dapat dikatakan Yogyakarta sebagai kota transit.

Pada jarak + 450 meter dari pertigaan Janti terdapat persilangan sebidang dengan jalan kereta api. Sehingga dapat dibayangkan akan terjadi kemacetan lalu lintas di pertigaan Janti pada saat kereta api melintas pada persilangan sebidang ini.

Perlu diketahui bahwa rel kereta api ini merupakan jalur utama Jakarta - Surabaya untuk jalur tunggal (single track) dengan volume melintas sebanyak 88 lintasan/perhari, sehingga hal ini memerlukan pemecahan tersendiri, yaitu dengan membangun Fly Over

Pembangunan Janti Fly Over

Pemerintah melalui Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah C.q. Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah telah menangani pembangunan Janti Fly Over sepanjang 1.250 M dengan membutuhkan biaya sebesar hampir Rp. 23 milyar, yang berasal dari sumber dana APBN + OECF IP-466, merupakan jalan layang pertama yang di bangun di Yogyakarta, dimaksudkan untuk dapat mengatasi dan mengantisipasi kemacetan lalu lintas terutama pada persilangan sebidang dengan jalur kereta api Jakarta - Surabaya serta pada pertigaan Janti.

Disain pembangunan Janti Fly Over semula dilaksanakan oleh Konsultan Nasional PT Perentjana Jaya dan PT Wiraguna Tani & Associates pada tahun 1998 dengan panjang total 997 M, namun dengan memperhatikan aspek teknis pelaksanaan dan persyaratan dari JBIC sebagai pemberi dana, Disain tersebut direvisi oleh Konsultan Internasional yaitu Pacific Consultant International (PCI) pada tahuan 1999, dengan rencana Fly Over sepanjang 1.250 M.

Alasan revisi adalah untuk memberikan tingkat kenyamanan yang lebih besar kepada pengguna jalan dikaitkan dengan batas kelandaian jalan dan antisipasi pelayanan jalan terhadap beban muatan lainnya terutama beban gempa.

Pembangunan Janti Fly Over mulai dilaksanakan pada Tahun Anggaran 1998/1999 untuk pembangunan dua buah pilar Fly Over serta pelebaran jalan untuk kebutuhan pengguna jalan. Pekerjaan Pelebaran dilaksanakan pada kedua sisi kiri dan kanan Jalan Arteri Selatan khususnya untuk lahan-lahan yang telah dibebaskan dari masyarakat, tujuannya agar warga masyarakat yang lahannya telah dibebaskan dapat membuka usahanya dengan lancar tanpa kesulitan akibat adanya puing-puing bongkaran bangunan yang apabila tidak dirapihkan akan menghalangi masyarakat untuk melakukan aktifitas perdagangan/jual beli di lokasi tersebut. Adapun Konstruksi 2 (dua) pilar terebut menggunakan sistem Sosrobahu yang merupakan pene-muan/paten dari seorang ahli Teknik Sipil Bangsa Indonesia yakni Ir. Tjokorda Raka Sukowati.

Manfaat Proyek

Menurut Ir. Tjipto Haribowo, Mantan Pripro Pembangunan Jalan dan Jembatan, yang kini menjabata Pimpro Pemeliharaan Jalan dan Jembatan Provinsi D.I. Yogyakarta, beberapa manfaat dari pembangunan Janti F.O. antara lain :

  1. Keseluruhan ruas jalan arteri Yogyakarta secara penuh dapat diselesaikan dan difungsikan, mengingat Janti Fly Over merupakan segmen terakhir dari ruas jalan tersebut.
  2. Dengan telah dieleminasikan pertemuan sebidang dengan jalan kereta api, dan jalan Solo untuk arah Selatan - Timur diharapkan banyak memberikan keuntungan kepada pengguna jalan baik dari pengurangan waktu tempuh (travel time) dengan kelambatan (delay) yang relatif kecil akibat kemacetan, maupun berkurangnya biaya operasional kendaraan (vehicle operating cost).
  3. Diharapkan tidak terjadi kecelakaan lalu lintas pada rel kereta api maupun pada pertigaan (junction) karena berkurangnya titik konflik (conflict point).
  4. Masyarakat di sekitar lokasi Janti Fly Over mendapat kepastian untuk mengambil inisiatif dalam rangka pengembangan kegiatan usaha/perdagangan yang mereka lakukan selama ini.
  5. Para Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Teknik di Yogyakarta dan sekitarnya mendapat kesempatan untuk melaksanakan praktek kerja lapangan karena Pembangunan Janti Fly Over memenuhi syarat untuk mereka dalam rangka membandingkan pengetahuan teori di bangku kuliah dan praktek di lapangan.



Sumber :

http://www1.pu.go.id/uploads/berita/ppw0110032.htm


S






Galeri Foto